Pengenalan Batik, Jangan hanya Seremonial

Kudus-Gerakan cinta produk

Indonesia terutama terhadap batik terus digencarkan.

Salah satunya melalui pengenalan dan pembelajaran batik sejak usia dini dengan metode pendekatan yang didukung oleh pihak sekolah.

Praktisi batik Kudus, Yuli Astuti dalam kegiatan belajar membatik bersama di klaster batik, Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus, kemarin menjelaskan, selama ini banyak siswa beranggapan membatik sulit dan mahal, karena membutuhkan banyak perlengkapan. Namun, sebenarnya hal ini bisa disiasati.

“Pada intinya pembelajaran batik inimerupakan lanjutan dari pengenalan. Untuk itu anak usia dini dan besekolah dapat dilibatkan secara langsung dalam pembuatan batik, “katanya.

Konsepnya adalah pendekatan, karena hal tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan dikemas dalam bentuk formal. “Anak-anak akan lebih menikmatinya dan bisa berekspresi dengan bebas tanpa ada tekanan. Dengan demikian hal tersebut akan memunculkan rasa suka, “terangnya.

Jika sudah demikian akan timbul rasa kecintaan memiliki batik. Hal tersebut tentunya akan membuahkan suatu pengalaman yang berkesan. “Dan tentunya akan selalu diingat, ” imbuhnya.

Regenerasi

Yuli menjelaskan, belajar dan pengenalan batik sebaiknya tidak hanya sekedar seremonial saja, namun manfaat dari semuanya itu terus berkelanjutan.

Ini bertujuan

menumbuhkembangkan regenerasi pembatik Kudus. “Memang hasilnya belum bisa dirasakan langsung, akan tetapi dalam jangka panjang regenerasi batik akan bermunculan dengan sendirinya, ” papar anggota ASEAN Women itu.

Untuk mendukung hal ini tentunya perlu partisipasi dari pihak sekolah untuk senantiasa memberikan semangat pada para siswanya. “Tentunya dengan metode yang tepat, ” katanya. (JI8-42)

Sumber : Suara Merdeka, Rabu 02 November 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *