SENSASI TAWANG-BALAPAN

SENSASI TAWANG-BALAPAN

Anak-anak Mimudaku sedang Shooting

Kudus – Senin (26/03) Kereta Api di Indonesia telah hadir sejak tahun 1867. Namun, menikmati model transportasi ini tidak semua orang dapat mengalami. Terlebih bagi generasi Kudus 80-an hingga kini, yang tak lagi dapat menyaksikan kereta api melintasi di kotanya. Beruntung masih tersisa stasiun Wergu dan rel yang masih dapat bercerita sedikit tentang kejayaan di masa lalu. Namun, kenangan itu tidak terlalu terasa, sebab telah berlalu segala sensasi dan kenangannya.

Untuk menghadirkan kenangan dan sensasinya kembali pada generasi kini, maka tiada jalam lain. MI Muhammadiyah 2 Kudus Program Khusus mengisi outbound dan PPL tahun ini dengan “Numpak Sepur”. Perjalanan yang diawali dengan pengenalan Stasiun Tawang Semarang ini mendapat antusias dari para siswa. Selain menyaksikan bangunan bersejarah stasiun, siswa juga mengenal berbagai profesi di dalamnya, seperti masinis, polisi khusus kereta, petugas teknisi dan lain sebagainya. Memasuki area stasiun Tawang, para siswa tak mampu menyembunyikan kekagumannya pada kereta. Tidak cukup hanya memandang kereta yang lewat di hadapan. Di antara mereka selalu ingin mendekat saat ada raungan kereta yang merapat di Stasiun. Mungkin bagi mereka, menyaksikan kereta api bagaikan bertemu dinosaurus yang langka. Oleh kerenanya kereta api yang berhenti di stasiun seakan menjadi obyek pelampiasan rasa penasarannya. Tiada yang luput dari tatapan matanya dari ujung bawah sampai ujung atas, dari kedatangan sampai berangkatnya. Bahkan andaikan bisa, kereta yang tak dizinkan berlalu dari hadapanya sebelum puas mata menatapnya. Maklumlah, anak Kudus era kini tak sembarang waktu bertemu alat transportasi yang dibawa ke Indonesia oleh Raja Willem I ini.

Serasa dalam mimpi, para siswa menyambut dengan riuh saat dipersilakan menaiki gerbong yang akan membawanya ke Kota Solo. Dengan penuh semangat mereka melangkahkan kaki ke tangga menuju gerbong kereta. Dengan tertib mereka mencari tempat duduk sesuai nomor yang tertera pada karcisnya. Sepanjang jalan mereka membuang pandangan ke jendela kereta. Perlahan-lahan Stasiun Tawang ditinggalkannya. Sepanjang jalan di Kota Semarang anak menyaksikan suasana yang tidak senalar dengan alam pikirannya. Bangunan tidak teratur dan sampah yang berserakan menjadi hiasan mata mereka.

Selepas Stasiun Alas Tuwo, mata mereka dimanjakan dengan pemandangan alam yang hijau. Kebun pisang, kelapa, jati dan lain sebagainya telah menjadi pengobat mata karena kesejukannya. Demikian juga memasuki Stasiun Karangjati hingga Gundhi mereka mendapakan suguhan pemandangan persawahan, kebun jagung serta perkampungan yang asri. Rumah-rumah yang diapit kebun dan persawahan menjadikan kesan damai dan nyaman dalam kesederhanaan.

Senyum siswa terus mengembang hingga Kereta memasuki Stasiun Balapan. Rasa penasaran yang pada stasiun yang masyhur inipun tiada tertahan. Sebelum kereta berhenti kakipun enggan terdiam, ingin merasakan sensasi melantai di “stasiunnya” Mas Didi Kempot ini.

Namun suasana ini tak berlangsung lama mengingat para siswa telah dinantikan bus-bus yang hendak membawanya ke Agro Wisata Amanah Karanganyar. Selamat jalan Stasiun Balapan, entah kapan pengalaman ini kan berulang. Sensasi Stasiun Tawang-Balapan, Senin duapuluh enam Maret duaribu delapan belas. (sby/ mimudaku)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *